Kawan PPM

Menuju Global Ethics Forum 2026 di Bali, Riset PPM Manajemen Bongkar Fakta Mengejutkan

GEF 2026 akan digelar di Bali pada 20-22 Oktober, menggandeng sepuluh mitra lintas sektor. Riset PPM Manajemen ungkap kesenjangan antara nilai kejujuran karyawan dan sistem antikorupsi organisasi di Indonesia.

10 September 2026 | 01.50 WIB

Menuju Global Ethics Forum 2026 di Bali, Riset PPM Manajemen Bongkar Fakta Mengejutkan

KM PPM - Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Global Ethics Forum (GEF) 2026, forum etika global yang untuk pertama kalinya digelar di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Hal ini diumumkan dalam acara press briefing and partnership launch yang berlangsung di PPM Manajemen, sekaligus menjadi momen peresmian kemitraan strategis GEF 2026 dengan sepuluh organisasi mitra dari Indonesia, yaitu PPM Manajemen, CNN Indonesia, National Geographic Indonesia, Tribun Network, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, UNESCO Office Jakarta, Rotary Sentul Peace Club Indonesia, Universitas Udayana, Universitas Hindu Indonesia, dan Universitas Gadjah Mada. Indonesia Global Compact Network dan Jakarta Post juga disebut akan segera menyusul bergabung sebagai mitra.

GEF bukan forum baru. Sejak pertama digelar pada 2009, forum ini rutin diselenggarakan setiap tahun hingga 2016, lima kali di Jenewa dan sekali di Bangalore, India. Setelah sempat vakum, forum ini kembali digelar pada 2024 dan 2025, yang diselenggarakan di Jenewa. Penyelenggaraan GEF 2026 di Bali pada 20 hingga 22 Oktober mendatang jadi momen penting karena baru kali ini forum tersebut hadir di kawasan Asia Timur dan Pasifik, dengan tema besar "Responsible Governance in a Fragmented World: Ethical Pathways to Human Flourishing in Business, Technology and Policy". Forum ini digagas oleh Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA) bersama Globethics, jaringan internasional yang fokus pada isu etika.

Sambutan Tuan Rumah dan Penyelenggara

Dalam sambutan acara konferensi pers, Ketua Pengurus Yayasan PPM Manajemen, Sofyan Rezanova, menyampaikan bahwa PPM Manajemen merasa terhormat dipercaya menjadi knowledge partner sekaligus tuan rumah rangkaian GEF 2026. Ia mengajak seluruh mitra yang hadir untuk menjadikan PPM Manajemen sebagai rumah kedua, sekaligus menegaskan bahwa tantangan terbesar bukan pada merumuskan nilai-nilai yang baik, melainkan memastikan nilai tersebut benar-benar dirasakan oleh orang-orang yang bekerja di dalam organisasi.

Senada dengan itu, Ketua Yayasan Dharma Etika Madani, Lasmi Subandi, menjelaskan bahwa tema besar GEF tahun ini berangkat dari pertanyaan mendasar, kemajuan yang dikejar organisasi saat ini sebenarnya untuk siapa. Ia menegaskan bahwa human flourishing bukan sekadar jargon, melainkan cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pihak yang berhak ikut berkembang bersama organisasi tempatnya bernaung.

Riset PPM Manajemen: Kejujuran Tinggi, Sistem Masih Tertinggal

Sesi berikutnya diisi diskusi media bertajuk "Maju untuk Siapa? Menempatkan Manusia di Tengah Ambisi Organisasi", menghadirkan Aries Heru Prasetyo, S.E., M.M., RFP-I., Ph.D., yang menjabat sebagai Head of Corporate Strategy and Value Creation PPM Manajemen sekaligus akademisi di Sekolah Tinggi Manajemen PPM, serta Assoc. Prof. Dr. Dicky Sofjan, Wakil Presiden Globethics sekaligus pendiri YADEMA.

Aries memaparkan hasil riset PPM Manajemen yang melibatkan 282 responden dari 173 organisasi di lebih dari 20 sektor. Riset ini menemukan bahwa 98,6 persen karyawan membawa nilai kejujuran sejak awal bergabung dengan organisasi. Namun, kesiapan sistem di level organisasi belum sejalan dengan hal tersebut, baru 69,7 persen perusahaan yang memiliki pakta integritas, 50,4 persen yang memiliki deklarasi anti korupsi, dan hanya 15,8 persen yang memiliki sistem antikorupsi yang benar-benar terstandarisasi.

Kesenjangan serupa juga ditemukan pada mekanisme pelaporan pelanggaran. Sebanyak 56,3 persen karyawan menyatakan mekanisme pelaporan sudah tersedia di organisasi mereka, tetapi tingkat rasa aman untuk menggunakannya masih rendah, yakni hanya berkisar 55 hingga 60 persen. Menariknya, faktor yang paling efektif mendorong budaya etis bukanlah aturan tertulis, melainkan keteladanan pemimpin (76,8 persen) dan pembiasaan kerja sehari-hari (72,5 persen).

"Membangun budaya etis tidak cukup hanya dengan menetapkan nilai di atas kertas," ujar Aries, seraya menekankan pentingnya sistem pendukung, lingkungan kerja yang kondusif, dan mekanisme perlindungan agar nilai-nilai tersebut benar-benar hidup dalam keseharian organisasi.

Temuan tersebut kemudian diperdalam melalui riset PPM Manajemen yang terpisah, dengan sampel 444 responden. Riset ini mengembangkan dan menguji ETHOZ melalui dua perspektif yang saling melengkapi: ECHI untuk mengukur penerapan etika organisasi secara terukur, serta HCO untuk mengkaji organisasi yang berpusat pada manusia dan mendukung karyawan untuk berkembang dan berkelanjutan. Hasilnya menunjukkan adanya jalur yang kuat dari fondasi etika menuju internalisasi, dan selanjutnya menuju praktik etika dan integritas. Dari perspektif organisasi yang berpusat pada manusia, nilai-nilai humanistik juga berkaitan kuat dengan desain kerja, yang selanjutnya berkaitan dengan kemampuan karyawan untuk berkembang dan berkelanjutan.

Dari temuan ini menunjukkan bahwa penguatan etika tidak cukup berhenti pada nilai yang diyakini individu; nilai tersebut perlu diterjemahkan ke dalam sistem, praktik, dan desain organisasi yang mendukung.

Konteks Global: Indonesia dan Paradoks Human Flourishing

Dicky Sofjan menambahkan konteks yang lebih luas lewat riset Global Flourishing Studies yang digagas Harvard University, Baylor University, dan Gallup, sebuah studi longitudinal

lima tahun yang melibatkan lebih dari 220.000 responden di 22 negara. Hasilnya, Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara paling flourishing di dunia, disusul Meksiko dan Filipina, sementara Jepang, Turki, dan Inggris justru ada di posisi terbawah.

Ia mengingatkan bahwa ada paradoks di sini, di saat bersamaan Indonesia juga dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat persepsi korupsi yang tinggi. Ia menyoroti pentingnya nilai antikorupsi menjadi "habits of the mind and habits of the heart", bukan sekadar aturan formal. Ia juga menyinggung satu dimensi yang menurutnya masih hilang dari kerangka human flourishing global, yaitu keberlanjutan ekologis, sesuatu yang justru sudah lama tercermin dalam kearifan lokal Nusantara, mulai dari falsafah "gemah ripah loh jinawi" hingga konsep Tri Hita Karana di Bali.

Sesi ini ditutup dengan tanya jawab yang turut menyentuh isu-isu aktual, mulai dari kesiapan tata kelola AI di organisasi hingga bagaimana nilai-nilai etika lokal bisa mempengaruhi kebijakan di level yang lebih luas.

Penandatanganan Kemitraan dan Jalan Menuju Bali

Rangkaian acara ditutup dengan prosesi simbolis penandatanganan dokumen kemitraan oleh perwakilan sepuluh organisasi mitra. Mewakili PPM Manajemen, Aries Heru Prasetyo menyampaikan bahwa kolaborasi ini jadi bagian dari langkah PPM Manajemen memaknai perjalanan 60 tahun ke depan dengan kontribusi yang lebih nyata bagi Indonesia.

Perwakilan CNN Indonesia, Desi Anwar, menyoroti pentingnya integritas sebagai fondasi kepercayaan publik, sementara National Geographic Indonesia mengungkapkan bahwa pihaknya sudah lebih dulu memakai istilah "kesejahteraan sejati" sebagai padanan human flourishing dalam salah satu edisi khususnya.

Menutup konferensi pers, disampaikan bahwa gagasan human flourishing akan menjadi salah satu topik utama yang dibahas dalam Global Ethics Forum 2026 di Bali. Forum ini diharapkan bisa menjadi ruang bagi berbagai pemangku kepentingan untuk bertukar gagasan sekaligus mencari solusi etis atas tantangan global yang dihadapi saat ini.

Tags

Global Ethics ForumGEF 2026PPM ManajemenEtika BisnisYADEMAAntikorupsi